PARIWARA

Get Paid To Promote, Get Paid To Popup, Get Paid Display Banner Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Jumat, September 27, 2013

RANCANG BANGUN SKIM ASURANSI PERTANIAN


Pengembangan asuransi pertanian perlu mempertimbangkan tujuan dan prinsip pengembangan lembaga asuransi pertanian, perilaku petani dalam menghadapi risiko, dan prasyarat yang harus dipenuhi untuk bekerjanya sistem asuransi pertanian

Dalam praktek, pengembangan asuransi pertanian di Indonesia perlu memperhatikan tiga hal berikut: (1) pengambilan keputusan oleh sebagian besar petani tidak hanya mempertimbangkan faktor ekonomi tetapi juga sosial budaya; (2) sebagian besar usahatani berskala kecil dan sering kali sebagai usaha sambilan; dan (3) usahatani umumnya terpencar dengan pola tanam yang beragam. Kesemua itu akan mempengaruhi biaya operasional asuransi pertanian. 

Ada sembilan unsur kunci yang menentukan efektivitas, kelancaran operasional, dan keberlanjutan sistem asuransi pertanian, yaitu: 
  1. Petani sasaran; dalam arti apakah sasarannya petani tertentu berdasarkan kategori skala usaha, partisipasi dalam lembaga perkreditan, status garapan, dan sebagainya. Untuk kasus usahatani padi lebih layak tidak dilakukan pemilahan berdasarkan tiga kategori tersebut. 
  2. Cakupan komoditas usahatani; untuk semua komoditas atau komoditas tertentu. Berpijak pada kondisi yang ada, tampaknya lebih layak mengembangkan asuransi pertanian untuk komoditas tertentu, khususnya padi. 
  3. Cakupan asuransi. Dalam konteks ini, yang utama adalah kaitannya dengan nilai jaminan dan penentuan kerugian. Faktor-faktor yang diperhitungkan dalam penilaian jaminan dan penentuan kerugian lazimnya dikaitkan dengan peluang terjadinya klaim dan kesanggupan petani membayar premi yang dikaitkan dengan kompensasi yang dinikmati petani dalam menjalankan usahatani
  4. Nilai premi dan prosedur pengumpulannya. Dalam hal ini perlu dipertimbangkan aspek yang mempengaruhi kelayakan finansial asuransi pertanian dan kebijakan pemerintah dalam pengembangan produksi pangan. 
  5. Mekanisme penyesuaian kerugian. Penentuan mekanisme penyesuaian kerugian harus memperhitungkan struktur biaya kelembagaan asuransi pertanian maupun struktur biaya dan risiko usahatani. Informasi dan data yang dibutuhkan dalam merancang mekanisme penyesuaian kerugian dapat diperoleh melalui survei yang disempurnakan berdasarkan hasil penelitian dengan pendekatan kaji tindak. 
  6. Struktur organisasi terkait dengan skim yang dipilih. Jika berbentuk BUMN, persoalan yang berkaitan dengan aspek property right harus disesuaikan dengan kerangka hukum yang berlaku. Di tingkat operasional, struktur organisasi yang dibentuk harus pula memperhatikan eksistensi kelembagaan di tingkat petani yang relevan dengan asuransi pertanian. 
  7. Skim pendanaan. Jika bentuk badan usaha yang dipilih adalah BUMN maka kebijakan pemerintah yang diberlakukan untuk badan-badan usaha milik negara akan berlaku pula sebagai acuan dalam skim pendanaan asuransi pertanian. Modifikasi mungkin diperlukan terkait dengan keunikan sistem asuransi pertanian. 
  8. Susunan penjaminan ulang. Secara teknis, susunan penjaminan ulang harus diputuskan sejak kelembagaan asuransi pertanian akan didirikan. Meskipun demikian, modifikasi dan penyempurnaan diperlukan berdasarkan hasil evaluasi dan pemantauan. 
  9. Komunikasi dengan petani. Di antara sembilan unsur kunci dalam skim asuransi pertanian, komunikasi dengan petani adalah yang paling penting. Pengembangan sistem komunikasi perlu memperhatikan kelembagaan lokal. Jika pendekatan yang ditempuh adalah kelompok tani sehamparan maka penguatan kelompok tani merupakan syarat mutlak. Peningkatan kemampuan kelompok tani dalam pencatatan kegiatan usahatani diperlukan dalam upaya menekan biaya operasional asuransi pertanian. Dalam hal ini peran PPL sangat strategis untuk menjembatani kepentingan pihak asuransi dan petani. 
Selain sembilan unsur kunci tersebut, ada prasyarat esensial lain yang perlu mendapat perhatian khusus, yaitu:
(1) ketersediaan pangkalan data yang memadai; 
(2) ketersediaan personal yang terlatih; 
(3) pemantauan; dan 
(4) arus informasi, teknologi, dan gagasan untuk penyempurnaan. 

Dengan terpenuhinya syarat-syarat tersebut diharapkan cita-cita pembentukan lembaga asuransi pertanian di Indonesia dalam upaya melindungi usaha petani bisa terwujud.

Sumber: 
Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Vol. 31 No. 2, 2009. 

Menerima: 
Murah, Cepat, dan Terpercaya

Rabu, September 25, 2013

MURAH, PASANG IKLAN DI BLOG INI


Kami siap melayani Anda dalam menyediakan slot iklan dalam mempromosikan website/blog/produk/usaha Anda secara online pada blog ini. Tata letak yang tersedia bagi iklan Anda dapat dilihat pada blog ini, adapun besarnya biaya pemasangan iklan tergantung pada jenis slot iklan yang Anda pilih sebagai berikut:

BIAYA PASANG IKLAN : 
BANNER : 

Banner : 728 x 60 
Status : Tersedia 2 slot 
Posisi : Header 
Tarif : Rp. 20.000,- /1 bulan/slot 

Banner : 125 x 125 
Status : Tersedia 4 slot 
Posisi : Sidebar 
Tarif : Rp. 15.000,- /1 bulan/slot 

Banner : 250 x 250 
Status : Tersedia 1 slot 
Posisi : Sidebar Tarif : Rp. 50.000,- /1 bulan/slot 


TEXT LINKS:

Status : Tersedia 5 slot 
Posisi : Sidebar Tarif : Rp. 10.000,- /1 bulan/slot 

Ketentuan Pemasangan Iklan: 
  1. Iklan tidak bermuatan unsur SARA, pornografi, judi, MLM, phising, penipuan, dan provokasi serta semua yang berlawanan dengan hukum yang berlaku di wilayah Indonesia. 
  2. Materi iklan sepenuhnya adalah tanggung jawab pemasang iklan. 
  3. Format image yang diijinkan berupa GIF, JPEG, JPG, dan PNG. 
  4. Tidak dapat menerima spam ataupun semacam link malware yang dapat merugikan. 
  5. Link iklan yang terpasang tidak boleh di redirect ke situs lain tanpa pemberitahuan. 
  6. Persyaratan dan ketentuan layanan ini bisa berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangannya. 
  7. Iklan anda akan segera di proses apabila slot iklan tersedia dan masih mencukupi, sertakan url tujuan dan text pesan dengan jelas. 

Cara Pemesanan:

Pemesanan slot iklan dapat dilakukan dengan menghubungi admin melalui email: dariuslmpow@yahoo.co.id 

Cara Pembayaran: 
  1. Pembayaran atas pemesanan slot iklan dengan cara setor/transfer tunai melalui bank dengan nama dan nomor rekening serta bank yang dituju akan diinformasikan ke email Anda setelah adanya pemesanan slot iklan. 
  2. Kirimkan image banner dan/ text links beserta dengan bukti pembayaran. 
  3. Maksimal 24 jam, image banner dan/ text links Anda dapat segera terpasang. 

Terima kasih atas kepercayaan Anda untuk memasang iklan dan mempromosikan website/blog/produk/usaha Anda secara online pada Kami. 


Menerima: 
Murah, Cepat, dan Terpercaya

BERBAGAI KEKELIRUAN PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN AGRIBISNIS


Dari begitu banyaknya literatur tentang kelembagaan, maka pada pokoknya kelembagaan akan sampai kepada tiga hal, yaitu siapa pihak yang telibat (baik individual ataupun social group), bagaimana tata hubungan di antara mereka (aspek struktur), dan bagaimana aturan main di antara mereka (aspek kultur). Aspek kultural dan struktural merupakan dua komponen utama dalam setiap kelembagaan (Syahyuti, 2003). 

Kelembagaan telah menjadi strategi penting dalam pembangunan pertanian dan pedesaan selama ini. Namun demikian, pengembangan kelembagaan belum pernah mencapai hasil yang optimal, yang disebabkan oleh berbagai faktor, terutama karena pemahaman dan strategi yang kurang tepat. Setidaknya terdapat sembilan bentuk kekeliruan yang selama ini dijumpai dalam pengembangan kelembagaan, yaitu (Syahyuti, 2003): 
  1. Kelembagaan-kelembagaan yang dibangun terbatas hanya untuk memperkuat ikatan-ikatan horizontal, namun lemah dalam ikatan vertikal. Kekeliruan ini kemudian diperbaiki dengan mengembangkan konsep kelembagaan agribisnis, yang lebih dipentingkan adalah ikatan-ikatan vertikal. 
  2. Kelembagaan dibentuk lebih untuk tujuan distribusi bantuan dan memudahkan tugas kontrol bagi pelaksana program, bukan untuk peningkatan social capital masyarakat secara mendasar. Tidak mengherankan jika sebuah kelembagaan akan bubar sesaat setelah ditinggalkan pelaksananya. 
  3. Struktur keorganisasian yang dibangun relatif seragam, yang bias kepada bentuk kelembagaan usahatani padi sawah sawah irigasi teknis di Pantura Jawa. Hal ini merupakan generalisasi yang terburu-buru dan sembrono, serta analogi yang tergesa-gesa dan tidak relevan (Mundiri, 1999). 
  4. Meskipun kelembagaan sudah dibentuk, namun pembinaan yang dijalankan cenderung individual terbatas kepada pengurus dan tokoh-tokoh dengan prinsip ”trickle down effect”, bukan social learning approach
  5. Pengembangan kelembagaan selalu menggunakan jalur struktural, dan lemah dari pengembangan aspek kulturalnya. Sruktur organisasi dibangun lebih dahulu, namun tidak diikuti perkembangan aspek kulturalnya (visi, motivasi, semangat, manajemen, dan lain-lain). 
  6. Introduksi kelembagaan lebih banyak melalui budaya material dibanding nonmaterial, atau merupakan perubahan yang materialistik. 
  7. Introduksi kelembagaan baru telah merusak kelembagaan lokal yang ada sebelumnya, termasuk merusakkan hubungan-hubungan horizontal yang telah ada. 
  8. Jika dicermati secara mendalam, pada hakikatnya, pengembangan kelembagaan masih lebih merupakan jargon politik daripada kenyataan yang riel di lapangan. 
  9. Kelembagaan pendukung untuk usaha pertanian tidak dikembangkan dengan baik, karena struktur pembangunan yang sektoral. 

Kekeliruan ini datang dari pola pikir bahwa kelembagaan lokal dianggap tidak memiliki “jiwa” ekonomi yang memadai karena itu harus diganti, menganggap bahwa pertanian gurem adalah permasalahan individual bukan permasalahan kelembagaan, dan menganggap bahwa permasalahan kelembagaan ada di tingkat petani belaka bukan pada super strukturnya. Selain itu, kesatuan administrasi pemerintahan dipandang sebagai satu unit interaksi sosial ekonomi pula, dan kelembagaan hanya berorientasi kepada produksi sehingga yang dibangun adalah kelembagaan-kelembagaan yang ada pada kegiatan produksi saja 

Sumber: Syahyuti. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bogor.

Menerima:
JASA OLAH DAN ANALISIS DATA PENELITIAN
Cepat, Murah, dan Terpercaya !

Kamis, September 12, 2013

KARAKTERISTIK PENDUDUK MISKIN


Penanganan masalah kemiskinan perlu difokuskan pada kemiskinan absolut daripada kemiskinan relatif (Khomsan 1999). Tujuan utama program pengentasan kemiskinan adalah mengembangkan kesetaraan posisi dan kemampuan masyarakat. Fokus penanganan masalah perlu didasarkan pada permasalahan pokok yang dihadapi masyarakat melalui pengembangan instrumen kebijakan yang relevan. 

Dimensi kemiskinan secara intertemporal mengalami perubahan dengan mempertimbangkan aspek nonekonomi masyarakat miskin. Sedikitnya terdapat sembilan dimensi kemiskinan yang perlu dipertimbangkan, yaitu: 1) ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar (pangan, sandang, dan perumahan), 2) aksesibilitas ekonomi yang rendah terhadap kebutuhan dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi yang baik, air bersih, dan transportasi), 3) lemahnya kemampuan untuk melakukan akumulasi kapital, 4) rentan terhadap goncangan faktor eksternal yang bersifat individual maupun massal, 5) rendahnya kualitas sumber daya manusia dan penguasaan sumber daya alam, 6) ketidakterlibatan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, 7) terbatasnya akses terhadap kesempatan kerja secara berkelanjutan, 8) ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental, dan 9) ketidakmampuan dan ketidakberuntungan secara sosial. 

Karakteristik penduduk miskin secara spesifik antara lain adalah (Pasaribu 2006): 1) sebagian besar tinggal di pedesaan dengan mata pencaharian dominan berusaha sendiri di sektor pertanian (60%), 2) sebagian besar (60%) berpenghasilan rendah dan mengonsumsi energi kurang dari 2.100 kkal/hari, 3) berdasarkan indikator silang proporsi pengeluaran pangan (> 60%) dan kecukupan gizi (energi < 80%), proporsi rumah tangga rawan pangan nasional mencapai sekitar 30%, dan 4) penduduk miskin dengan tingkat sumber daya manusia yang rendah umumnya tinggal di wilayah marginal, dukungan infrastruktur terbatas, dan tingkat adopsi teknologi rendah. 

Dalam konteks karakteristik kemiskinan masyarakat petani di pedesaan, menarik untuk dikemukakan keterkaitan antara penguasaan lahan dan tingkat kemiskinan. Terdapat korelasi yang kuat antara skala penguasaan lahan dengan indeks kemiskinan dan indeks rumpang kemiskinan (proverty gap). Makin luas penguasaan lahan, makin rendah tingkat kemiskinan (LPEM-FEUI 2004). Bagi tunakisma (petani tanpa lahan), tingkat kemiskinan mendekati 31%, dan bagi petani dengan penguasaan lahan kurang dari 0,10 ha, tingkat kemiskinan mencapai 28,30%. Tingkat kemiskinan menurun secara konsisten menjadi 5,60% bagi rumah tangga petani yang menguasai lahan 2-5 ha. 

Sumber: Tahlim Sudaryanto dan I Wayan Rusastr. Jurnal Litbang Pertanian, 25(4), 2006 117.
 

Menerima: 
JASA OLAH DAN ANALISIS DATA PENELITIAN 
Cepat, Murah, dan Terpercaya !

Sabtu, September 07, 2013

DAUR HIDUP PRODUK AGRIBISNIS

Sebuah konsep yang sangat penting saat mengembangkan suatu strategi pengembangan produk adalah dengan mengamati siklus ataupun daur hidup produk yang bersangkutan. Siklus ini dapat dijelaskan sebagai berikut: 
  1. Tingkat Pengenalan. Tahapan ini berkaitan dengan waktu yang dibutuhkan menampilkan diri di pasar. Biasanya ada banyak biaya dan usaha yang dibutuhkan untuk menyampaikan produk baru sampai ke pasar. Kadangkala selama waktu pengenalan produk bisa menunjukkan keuntungan, tergantung tingkat kesuksesannya. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi dalam memperkenalkan strategi-strategi. Perusahaan boleh memilih pengeluaran yang besar tetapi mengurangi waktu bagi pendapatan konsumen atau pelanggan, atau memperkenalkan produk tanpa keributan. 
  2. Tingkat pertumbuhan. Tahapan ini menyangkut waktu yang dibutuhkan produk di pasar sehingga dapat mengalami peningkatan penjualan, pertumbuhan pangsa pasar. Pada tahapan ini pengusaha Agribisnis mulai menerima keuntungan karena penjulan mengalami peningkatan, bersamaan dengan itu pasar juga mengalami perluasan. 
  3. Tingkat Pengembangan. Tahapan ini menyangkut waktu yang dibutuhkan produk untuk mengalami pengembangan. Produk yang semula dikenalkan di pasar perlahan-lahan terus mengalami perkembangan, baik fitur maupun kontent daripada produk; sehingga dapat lebih meningkatkan minat pembeli.Tahap pengembangan ini menjadi tahapan penting bagi pengusaha karena akan dapat memberikan gambaran apa yang terjadi kepada produk, apakah masih mempunyai potensi pasar atau tidak. 
  4. Tingkat Pendewasaan adalah ciri-ciri pertumbuhan yang lamban atau akhir penjualan pada pasar yang mengalami kejenuhan. Keterlambatan penjualan dikarenakan ada banyak para pelanggan yang berpotensi meninggalkan usahanya, karena para pesaing sudah ikut serta dalam pasar, dan penjual baru meninggalkan keterlambatan dan usahanya, serta penempatan penjualan pada para pelanggan yang sudah ditetapkan. Bagian ini biasanya lebih tahan lama dari pada lainnya, jadi banyak produk-produk di pasar tetap bertahan. Banyak aktivitas pemasaran yang memperpanjang masa pendewasaannya dengan meningkatkan penjualan dan mempertahankan keuntungan. 
  5. Tingkat Kemunduran ditunjukkan oleh merosotnya penjualan dengan cepat. Menukar pilihan konsumen atau pengganti produk baru mungkin malah mempercepat kematian produk. Umumnya jika produk sudah tidak disukai, lalu penjualan nol, maka perlahan-lahan perusahaan akan menghentikan kegiatan pemasarannya. Banyak pengusaha menemukan langkah kemunduran yang sangat sukar untuk mengaturnya. Para eksekutif yang sudah membangun jabatan ahli mereka di sekitar pertumbuhan suatu produk, kadang-kadang secara emosional dilibatkan dengan produk, dan dengan begitu segan untuk mengakui dan mengijinkan kemundurannya. Manajer pemasaran dapat secara sah mengharapkan pertumbuhan penjualan dapat dimulai lagi seperti kondisi-kondisi ekonomi yang berubah. 
Sumber: www.johannessimatupang.files.wordpress.com

Menerima:

JASA OLAH DAN ANALISIS DATA PENELITIAN
Cepat, Murah, dan Terpercaya !

Rabu, September 04, 2013

POSITIONING AGRIBUSINESS PRODUCT

Positioning,yaitu proses menciptakan image yang diinginkan ke dalam pikiran pelanggan. Positioning juga dikenal sebagai pertempuran untuk menentukan sesuatu di benak pelanggan. Positioning tidak berkaitan dengan kegiatan menciptakan barang dan jasa akan tetapi bagaimana menentukan sesuatu di benak pelanggan. ada produk tertentu yang sedemikian terkenalnya; sehingga ketika pelanggan mengkonsumsinya pelanggan tidak merasakan apa yang ditawarkan oleh barang dan jasa secara fisik, akan tetapi secara intangible pelanggan dapat merasakan adanya kepuasan karena adanya posisi perusahaan di benak pelanggan yang bersangkutan. 

Sebagai kelanjutan dari positioning adalah penciptaan competitive advantage; artinya menawarkan sekumpulan kompetensi dimana perusahaan mempunyai keunggulan yang berbeda dibanding dengan pesaingnya. Kompetensi ini ditemukan pada kemampuan produsen menghasilkan barang dan jasa sesuai dengan kebutuhan pelanggan. 

Porter menjelaskan ada dua kompetensi sebagai dasar membangun daya saing satu perusahaan terhadap perusahaan yaitu: 
  1. Differential advantage. Perusahaan menawarkan tambahan kepada barang dan jasa mereka dimana perusahaan lain tidak dapat memberikannya. Tambahan jasa ini berbagai bentuk sehingga pada dasarnya dapat menciptakan nilai kepada pelanggan secara keseluruhan. 
  2. Cost leadership. Perusahaan menawarkan barang dan jasa ke pasar dimana pelanggan dapat membandingkan kualitas dan fitur yang terdapat dalam produk. Akan tetapi tidak hanya berhenti di situ, perusahaan juga menerobos pasar melalui penentuan harga yang lebih rendah dibanding dengan harga perusahaan lain. 
Sumber: www.johannessimatupang.files.wordpress.com

Menerima:
JASA OLAH DAN ANALISIS DATA PENELITIAN
Cepat, Murah, dan Terpercaya !

Sabtu, Agustus 31, 2013

SEGMENTASI PASAR PRODUK AGRIBISNIS

Segmentasi dimaksudkan sebagai upaya pengelompokan pelanggan dari yang bersifat heterogen menjadi bagian yang lebih homogen. Pengelompokan ini selanjutnya dijadikan pasar sasaran yang harus dilayani; dimana perusahaan harus lebih unggul dibanding dengan perusahaan saingannya. Dalam bidang agribisnis perlu dipertimbangkan dengan baik bahwa konsumen mengkonsumsi satu komoditi dilatarbelakangi oleh banyak hal. Konsumen yang peduli sekali dengan masalah higienitas produk akan mempertimbangkan unsur ini atas setiap produk yang akan dikonsumsi. Oleh karena itu, setiap segmentasi yang telah dibuat harus dikenali dengan baik tentang karakteristik umum dari keseluruhannya; misalnya kebutuhan, motif membeli, dan masing-masing keunikan daripada segmen pasar. Ada banyak cara yang dilakukan pemasar dalam melakukan segmentasi pasar. Cara yang umum dilakukan antara lain adalah: 
  1. Segmentasi berdasarkan geografik. Didasarkan kepada ciri kependudukan; meliputi karakteristik usia, pendapatan, ukuran rumah tangga, dan lain-lain yang biasanya menentukan perilaku suatu pasar. 
  2. Operating characteristic. Khusus untuk usahatani, pasar dapat juga dikelompokkan berdasarkan pasar pertanian atau peternakan, ukuran perusahaan, teknologi yang digunakan dalam proses produksi dan kepemilikan. 
  3. Segmentasi prsikografik. Pemasar melakukan pengelompokan yang didasarkan kepada image atau prestise pembeli. Untuk konsumen anggur misalnya, hal ini demikian menonjol dimana pelanggan tidak sekedar minum anggur akan tetapi mempertimbangkan merek sebagai prestise. 

Secara umum segmentasi pasar dapat dilakukan lewat berbagai cara, dengan mempertimbangkan syarat-syarat berikut: 
  1. Terukur. Pengelompokan harus dapat diukur, sehingga dapat dengan jelas ditentukan berapa besarnya pasar yang akan dilayani. Karakteristik kependudukan mungkin dengan mudah dapat dilakukan, akan tetapi harus menunjukkan satu besaran yang dapat diukur, sehingga setiap saat dapat dievaluasi. 
  2. Substantif. Pengelompokan yang dilakukan harus cukup besar sehingga dapat dilayani secara menguntungkan, kalau tidak hanya menjadi bagian kecil saja yang tidak menjanjikan. 
  3. Actionable. Pasar yang telah dikelompokkan harus dapat dilayani perusahaan secara efektif. Pasar mungkin dapat diidentifikasi sedemikian besar akan tetapi tidak dapat dilayani karena perusahaan tidak mempunyai sumberdaya yang memungkinkan untuk itu. 

Pengelompokan di atas tentunya masih perlu ditambahkan dengan pertimbangan lain seperti tingkat persaingan yang terjadi di pasar agribisnis. Selain persaingan, pertumbuhan pasar juga menjadi pertimbangan. Pasar pada awalnya mungkin cukup kecil, akan tetapi berkembang dengan tingkat pertumbuhan yang pesat. Selanjutnya yang harus dipertimbangkan adalah apakah pasar demikian menjanjikan sehingga dapat memberikan keuntungan (profitable) kepada perusahaan. 

Sumber: www.johannessimatupang.files.wordpress.com

Menerima:
JASA OLAH DAN ANALISIS DATA PENELITIAN
Cepat, Murah, dan Terpercaya !

Selasa, Agustus 27, 2013

KONSEP DASAR EKONOMI AGRIBISNIS

  1. Opportunity Cost. Opportunity cost lebih dikenal sebagai biaya alternatif yang diderita oleh satu perusahaan karena tidak berada dalam pemilihan alternatif optimal. Artinya, keputusan yang diambil seorang manajer tidak menggunakan pilihan optimal sehingga terhalang untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi. Biaya ini muncul setelah keputusan diambil dan perusahaan ternyata terhalang peluangnya (opportunity) untuk memperoleh keuntungan yang lebih tinggi. Besarnya biaya seperti ini sulit untuk diperkirakan secara tepat, tetapi para ekonom yakin ini harus diperhitungkan karena kesalahan dalam pengambilan keputusan. Satu hal yang harus disadari bahwa biaya alternatif bukanlah merupakan pengeluaran sebagaimana biaya umumnya secara akuntansi. 
  2. Keuntungan Ekonomi. Adanya pandangan terhadap keuntungan, maka keuntungan ekonomi dihitung setelah diperoleh keuntungan akuntansi dikurangi dengan opportunity cost. Karena adanya perbedaan ini maka dapat disimpulkan bahwa apabila secara akuntansi ada keuntungan, maka belum tentu secara ekonomi akan didapat keuntungan sebagai akibat adanya biaya alternatif. 
  3. Prinsip Maksimisasi. Prinsip maksimisasi pada dasarnya menentukan titik produksi dimana keuntungan yang diperoleh adalah keuntungan yang paling tinggi. Artinya bila perusahaan memilih titik ini sebagai tingkat produksi maka perusahaan akan menderita rugi karena keuntungannya akan turun, atau kalau dia rugi maka kerugiannya semakin besar. 
Sumber: www.johannessimatupang.files.wordpress.com

Menerima:
JASA OLAH DAN ANALISIS DATA PENELITIAN 
Cepat, Murah, dan Terpercaya !

Rabu, Agustus 14, 2013

ORIENTASI PASAR PRODUK AGRIBISNIS

Perekonomian yang berorientasi pasar adalah kegiatan perekonomian yang didasarkan kepada indikasi yang terjadi di pasar. Indikasi ini utamanya adalah harga. Misalnya ketika harga udang mengalami kenaikan karena adanya permintaan maka perlahan-lahan akan ada kelangkaan. Selanjutnya para investor akan melakukan upaya peningkatan penawaran dengan melakukan berbagai investasi. Ketika diperoleh pertambahan hasil, maka akan berpengaruh terhadap harga udang, cenderung akan menurun. Kegiatan ini menunjukkan bagaimana retailer – termasuk restoran, investor, penghasil alat penangkap ikan – berada pada satu sistem; hubungan dimana kegiatan mereka digerakkan oleh harga. Harga menjadi sinyal yang menentukan apa yang harus dilakukan oleh suatu pelaku ekonomi. 

Dalam keadaan seperti ini satu hal yang harus dicatat adalah adanya jaminan kepemilikan sumberdaya ekonomi. Kepemilikan ini diatur dalam suatu sistem kapitalis dimana diperkenankan adanya kepemilikan – kepengusahaan sumberdaya ekonomi kepada swasta. Pemerintah dalam hal ini relatif tidak banyak campur tangan dalam menjalankan bisnis. Namun, Pemerintah fungsinya tetap memberikan fasilitas yang didasarkan kepada prinsip efisiensi dan membela kepentingan umum. Prinsip efisiensi berarti, Pemerintah berupaya agar harga yang akan dibayarkan oleh masyarakat diharapkan merefleksikan harga yang wajar; dan apabila terjadi bencana dari praktek agribisnis yang dilakukan, maka peran Pemerintah melindungi warganya dari berbagai malapetaka yang bakal muncul. 

Memang dalam kenyataannya salah satu sistem perekonomian sering dipersalahkan ketika sistem ini lebih memberikan keuntungan kepada sekelompok orang. Misalnya para pemilik modal; yang pada akhirnya diakui tidak mendukung program pemerataan yang dilakukan pada satu negara. Akan tetapi peran pemerintahan perlahan-lahan memang bergeser kepada upaya memfasilitasi untuk terjadinya segala sesuatu sebagaimana diisyaratkan oleh pasar, bukan oleh kemauan Pemerintah saja. Diyakini bahwa salah satu penggerak kegiatan perekonomian karena adanya perolehan keuntungan para pelaku bisnis. Keuntunganlah kemudian yang menjadi fokus untuk memutuskan apakah satu investasi dilakukan atau tidak. Dalam kaitan ini ada berbagai alasan yang mengakibatkan munculnya keuntungan. 
  1. Keuntungan muncul sebagai hadiah daripada keberanian menanggung risiko. Pebisnis yang memperoleh keuntungan diyakini karena mampu memulai bisnis dimana orang lain tidak berani melakukannya. Sehingga mereka yang beranilah pada akhirnya menerima keuntungan. 
  2. Keuntungan muncul karena adanya hak mengendalikan sumberdaya yang langka, atau karena adanya hak monopoli satu perusahaan. Munculnya keuntungan dalam hal ini lebih dikarenakan adanya kekhususan yang diperoleh si pelaku bisnis berupa hak, sehingga tidak ditemui saingan yang lebih memungkinkan baginya untuk memperoleh keuntungan. 
  3. Keuntungan dapat juga muncul karena adanya penguasaan terhadap informasi dimana pihak lain tidak memilki. Dalam peradaban yang sangat kompetitif, informasi menjadi sumberdaya langka, dimana mereka yang memiliki sumberdaya adalah sekaligus mereka yang memperoleh kesempatan pertama untuk memperoleh keuntungan dibanding dengan pebisnis lain.  
Sumber: www.johannessimatupang.files.wordpress.com

Menerima:
JASA OLAH DAN ANALISIS DATA PENELITIAN
Cepat, Murah, dan Terpercaya !

Kamis, Agustus 08, 2013

SELAMAT IDUL FITRI

Dengan kerendahan dan keikhlasan hati , saya beserta keluarga mengucapkan:

SELAMAT IDUL FITRI
1 Syawal 1434 H

Minal Aidin wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Menerima:
JASA OLAH DAN ANALISIS DATA PENELITIAN
Cepat, Murah, dan Terpercaya !

Rabu, Agustus 07, 2013

MANAJER AGRIBISNIS

Manajemen adalah seni dan ilmu. Manajer harus dapat mengoptimalkan kombinasi sumberdaya manusia, keuangan, aset fisik, guna mencapai keuntungan pada jangka pendek dan pada jangka panjang guna memberi kepuasan kepada pelanggan. Ada banyak keahlian yang harus dimiliki oleh seorang manajer; kapasitas teknis tentang organisasi dan proses produksi, akuntansi, keuangan, peramalan, komunikasi, dan kemampuannya memotivasi karyawan. Sebagai tambahan, manajer bidang agribisnis harus memahami unsur biologis dan unsur kelembagaan lingkungan di sekeliling proses produksi. Hal ini berkaitan dengan kespesifikan produk pertanian, sehingga dia harus cepat melakukan perubahan sebagai akibat dari ketidakpastian yang dapat terjadi. Hal demikian harus dapat diperankan oleh manajer; artinya dia mampu memberi perspektif kepada staf dan karyawan akan adanya perubahan. 

Sumber: www.johannessimatupang.files.wordpress.com

Menerima:
JASA OLAH DAN ANALISIS DATA PENELITIAN
Cepat, Murah, dan Terpercaya !

Senin, Juli 08, 2013

PERANAN MANAJEMEN DALAM AGRIBISNIS

Agribisnis dapat didefinisikan sebagai keseluruhan kegiatan meliputi manufaktur, distribusi kebutuhan usahatani, proses produksi usahatani, penyimpanan, pengolahan, serta distribusi hasil atau komoditas dari usahatani dan jenis lainnya. Sedangkan Ewel Roy mendefinisikan agribisnis sebagai pengetahuan yang mengkoordinasikan masukan pertanian, input, seterusnya produksi, pengolahan, serta distribusi produk makanan dan serat. 

Definisi ini jelas menunjukkan betapa luasnya bidang kajian agribisnis,yang jauh lebih luas dari kajian disiplin pemasaran misalnya. Dari pembidangan seperti ini maka kegiatan dalam agribisnis lebih kompleks dibandingkan dengan kegiatan manufaktur yang lebih terfokus pada masalah membuat barang dan jasa, menyampaikan, hingga mengevaluasi; sebagaimana ditemui pada pendekatan manajemen pemasaran atau pendekatan produksi. Kekompleksan demikian membutuhkan pemaduan antara disiplin ilmu ekonomi dan pertanian utamanya. 

Bidang agribisnis menjadi lebih berkembang dewasa ini karena produk-produknya dihasilkan dalam berbagai bentuk yang sedemikian rupa sehingga mudah dikonsumsi dan dapat memenuhi pola konsumsi masyarakat modern. Sepertinya sudah tidak mengherankan lagi ketika anda memasuki supermarket dan menyaksikan produk pertanian seperti buah-buahan, biji-bijian, kacang-kacangan serba tersedia; dan mungkin tidak perlu mempersoalkan lagi di mana semua itu dihasilkan, diangkut, dikemas dengan baik; sehingga bisa sampai di tempat tujuan. Kegiatan yang terdapat di dalamnya sesungguhnya menarik dan kompleks. Kegiatan ini sangat kompleks karena melibatkan banyak kegiatan pada satu perusahaan dan melibatkanPemerintah; kebijakan pemerintah – politik dalam mempertahankan dan mengembangkan satu komoditi. 

Sumber: www.johannessimatupang.files.wordpress.com

Menerima:
JASA OLAH DAN ANALISIS DATA PENELITIAN
Cepat, Murah, dan Terpercaya !

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN

Hatiku tak sebening air mengalir dari pegunungan.
Sikapku tidak sesempurna ahli surga.
Tutur kataku tak seindah lantunan ayat suci Al-Qur'an.

Saat yang baik ini dan detik menjelang bulan Ramadhan 1433 H perkenankan diriku ini meminta maaf atas semua khilafku pada semua orang yang telah hadir dalam hidupku, baik yang menyayangiku ataupun yang membenciku.

Marhaban ya Ramadhan Tahun 1433 H
Mohon maaf lahir dan batin.

Menerima:
JASA OLAH DAN ANALISIS DATA PENELITIAN
Cepat, Murah, dan Terpercaya !

Sabtu, Februari 16, 2013

Tipe Cold Storage

a. Jacketed cold storage ( cold storage berjaket) 
Tipe ini merupakan ruang penyimpanan yang ideal, tetapi konstruksinya sangat mahal. Ruang dalam terisolasi total dari jaket udara,karena itu lapisan dalam harus dibuat dari bahan yang tidak dapat ditembus udara. Sambungan-sambungannya harus dibuat kedap udara.Sistem cold storage ini menjamin bahwa perbedaan suhu didalam ruang penyimpan cukup kecil. Hal ini dicapai karena aliran dari udara dingin mengelilingi bagian luar dari ruangan dalam penyimpanan. Selain itu, karena pemasukan panas sangat kecil, RH yang tinggi dapat dipertahankan. Dengan demikian, dehidrasi produk sangat terbatas. Tipe ini tidak memerlukan kipas di dalam ruang penyimpan. Hal ini merupakan faktor lain yang mendukung dihasilkannya produk yang baik. Tipe ini tidak banyak dipakai karena harga yang cukup mahal dan karena tidak cocok jika beban panas dari produk cukup tinggi

b. Gridded cold storage (cold storage dengan pipa pendingin polos)
Pada tipe ini, pipa pendingin polos dirangkai menutupi seluruh langit-langit dan di dinding ruangan cold storage.Tipe ini juga menghasilkan kondisi penyimpanan yang baik karena suhu dalam ruangan cukup merata tanpa disirkulasikan dengan kipas. Panas yang masuk melalui dinding segera dikeluarkan tanpa mengganggu produk yang disimpan. Kecepatan pemindahan panas ke pipa hanya sedikit berkurang jika pipa tertutup es sehingga defrost tidak perlu sering dilakukan. Cold storage jenis ini dapat bekerja berbulan-bulan tanpa defrosting. Kelemahan atau kerugian utama dari tipe ini adalah: 1) Ada banyak saluran-saluran pipa yang kompleks 2) Memerlukan bahan refrigeran dalam jumlah yang banyak 3) Struktur cold storage harus kuat untuk menahan pipa-pipa dan refrigeran. 4) Memerlukan bejana penampung regfrigerant jika cooler perlu dikosongkan untuk diperbaiki 

c. Finned grid stores (cold storage dengan pipa bersirip) 
Tipe ini mirip dengan gridded cold storage tapi pipa yang digunakan adalah pipa bersirip. Dengan pipa bersirip ini jika dirangkai di langit-langit saja sudah mencukupi, tanpa memerlukan rangkaian pipa di dinding. Dengan demikian biaya dapat dikurangi, akan tetapi kelemahannya adalah pipa tidak menutupi dinding sehingga kondisi penyimpanannya tidak sebaik cold storage dengan pipa polos. Pipa bersirip lebih sulit di-defrost dan defrost perlu dilakukan sesering mungkin. 

d. Cold storage dengan Unit cooler 
Tipe ini paling banyak digunakan karena paling murah pemasangannya; hanya sedikit memerlukan bahan pendingin; mudah di-defrost dan tidak memerlukan struktur penyangga yang berat. Kelemahannya adalah beberapa rancangan tidak memungkinkan distribusi udara yang merata di dalam cold storage sehingga menyebabkan kondisi penyimpanan yang buruk. 

Sumber: www.deptan.go.id

Menerima:
JASA OLAH DAN ANALISIS DATA PENELITIAN
Cepat, Murah, dan Terpercaya !

Selasa, Januari 22, 2013

Sarana dan Prasaran Penanganan Pascapanen Kopi

a. Lokasi 
Lokasi bangunan tempat penanganan pasca panen harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) Bebas dari pencemaran, 2) Pada tempat yang layak dan tidak di daerah yang saluran pembuangan airnya buruk, 3) Dekat dengan sentra produksi sehingga menghemat biaya transportasi dan menjaga kesegaran produk, 4) Sebaiknya tidak dekat dengan perumahan penduduk. 

b. Bangunan 
1) Bangunan harus dibuat berdasarkan perencanaan yang memenuhi persyaratan teknik dan kesehatan sesuai dengan jenis produk yang ditangani, sehingga mudah dibersihkan, mudah dilaksanakan tindak sanitasi dan mudah dipelihara. 2) Tata letak diatur sesuai dengan urutan proses penanganan, sehingga lebih efisien 3) Penerangan dalam ruang kerja harus cukup sesuai dengan keperluan dan persyaratan kesehatan serta lampu berpelindung 4) Tata letak yang aman dari pencurian.

c. Sanitasi
Bangunan harus dilengkapi dengan fasilitas sanitasi yang dibuat berdasarkan perencanaan yang memenuhi persyaratan teknik dan kesehatan. 1) Bangunan harus dilengkapi dengan sarana penyediaan air bersih. 2) Bangunan harus dilengkapi dengan sarana pembuangan yang memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3) Bangunan harus dilengkapi sarana toilet : letaknya tidak terbuka langsung ke ruang proses penanganan pasca panen 4) Dilengkapi dengan bak cuci tangan (wastafel).

d. Wadah dan Pembungkus
1) Dapat melindungi dan mempertahankan mutu isinya terhadap pengaruh dari luar. 2) Dibuat dari bahan yang tidak melepaskan bagian atau unsur yang dapat mengganggu kesehatan atau mempengaruhi mutu makanan. 3) Tahan/tidak berubah selama pengangkutan dan peredaran. 4) Sebelum digunakan wadah harus dibersihkan dan dikenakan tindakan sanitasi. 5) Wadah dan bahan pengemas disimpan pada ruangan yang kering dan ventilasi yang cukup dan dicek kebersihan dan investasi jasad pengganggu sebelum digunakan.

e. Tenaga Kerja 
1) Tenaga kerja harus berbadan sehat. 2) Memiliki keterampilan sesuai dengan bidang pekerjaannya. 3) Mernpunyai komitmen dengan tugasnya. 4) Sesuai dengan Undang-Undang Tenaga Kerja 

f. Alat dan Mesin 
Pada beberapa kegiatan penanganan pasca panen kopi secara kelompok, menengah dan besar, yang melakukan proses pengolahan kopi dengan cara kering, semi basah maupun basah dapat menggunakan alat dan mesin. Proses pengolahan kopi dengan bantuan alat dan mesin memerlukan biaya investasi yang relatif cukup besar. Selain itu juga membutuhkan tenaga yang terlatih dan biaya operasi untuk bahan bakar dan listrik. Alat dan mesin yang dipergunakan untuk penanganan pasca panen kopi harus memenuhi persyaratan minimum yang telah ditetapkan, dan telah teruji kinerjanya oleh Balai Pengujian Mutu Alat dan Mesin Pertanian. Selain itu, alat dan mesin harus memenuhi persyaratan teknis, kesehatan, ekonomis dan ergonomic. persyaratan peralatan dan mesin yang digunakan dalam penanganan pasca panen kopi harus meliputi : 1) Permukaan yang berhubungan dengan bahan yang diproses tidak boleh berkarat dan tidak mudah mengelupas. 2) Mudah dibersihkan dan dikontrol. 3) Tidak mencemari hasil seperti unsur atau fragmen logam yang lepas, minyak pelumas, bahan bakar, tidak bereaksi dengan produk, jasad renik dan lain-lain. 4) Mudah dikenakan tindakan sanitasi. 

Sumber: www.deptan.go.id

Menerima:
JASA OLAH DAN ANALISIS DATA PENELITIAN
Cepat, Murah, dan Terpercaya !