PARIWARA

Get Paid To Promote, Get Paid To Popup, Get Paid Display Banner Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Senin, September 25, 2006

Potret Pembangunan Ekonomi Nasional pada Jaman Orde Baru

Pembangunan ekonomi selama rejim orde baru secara fisik cukup berhasil, namun secara fundamental sangat rapuh. Orientasi pembangunan selama rejim orde baru secara konseptual juga meyakinkan. Namun, secara praktis dan operasional sangat buruk dan tidak efisien. Tidak dapat disembunyikan lagi bahwa Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN) telah terjadi di mana-mana, mulai dari aparat desa sampai aparat pemerintah pusat, baik eksekutif dan legeslatif maupun lembaga-lembaga negara yang lain. Konglomerasi yang merugikan, serta praktek-praktek monopoli dan kartel yang menyengsarakan masyarakat banyak telah terjadi di berbagai industri dan pasar komoditas.
Banyak pengamat yang telah mengemukakan, baik secara eksplisit maupun secara implisit, bahwa fundamental ekonomi Indonesia tidak kuat. Walaupun para pengamat tersebut menggunakan sudut pandang yang berbeda, dan sisi pandang penekanan yang berbeda, namun keseluruhannya melahirkan kesimpulan yang sama seperti di atas. Berikut ini adalah alasan-alasan yang mendukung kesimpulan tersebut, yakni :
  1. Fundamental ekonomi yang kuat harus didukung oleh usaha kecil dan menengah (termasuk koperasi) yang kuat, sehingga dapat memperkokoh berdirinya usaha besar sebagai basis pertumbuhan ekonomi.
  2. Pertumbuhan sektor jasa yang sangat tinggi merupakan loncatan ekonomi yang tidak memiliki basis industri yang kuat, sementara industri yang tumbuh tidak berorientasi dan berbasis pada domestic resources.
  3. Praktek pengembangan ekonomi sangat berpihak kepada skala usaha besar, sektor jasa dan industri, dan grup-grup usaha yang menguasai hampir semua sektor ekonomi, sementara usaha berskala kecil dan menengah seakan menjadi anak tiri terutama dalam fasilitas pembiayaan. Sektor pertanian dalam konteks agribisnis dan agroindustri hampir terabaikan. Usaha ekonomi rakyat, seperti koperasi dan usaha rumah tangga yang hanya menguasai sebagian kecil dari lini produk sulit untuk memperoleh fasilitas pembiayaan.
  4. Meletakkan fundamental pembangunan ekonomi yang kuat harus dimulai dari ekonomi yang berbasis domestic resources.
  5. Fundamental pembangunan industri yang kuat harus berorientasi pada domestic resource based industries.
  6. Pembangunan ekonomi di sektor jasa harus seimbang dengan pembangunan industri yang kuat, karena sektor jasa tidak akan memiliki landasan fundamental yang kuat jika sektor industrinya tidak kuat.

Sumber :

E. Gumbira-Sa'id dan A. Harizt Intan, 1998. Reorientasi Pembangunan Ekonomi Reorientasi Pembangunan Ekonomi Indonesia dalam Era Reformasi : Indonesia dalam Era Reformasi : Peranan Sektor Agribisnis dan Peranan Sektor Agribisnis dan Agroindustri. Majalah Usahawan No. 10 Th XXVII Oktober 1998.