PARIWARA

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

OK

Tampilkan postingan dengan label prasarana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prasarana. Tampilkan semua postingan

Selasa, Januari 22, 2013

Sarana dan Prasaran Penanganan Pascapanen Kopi

a. Lokasi 
Lokasi bangunan tempat penanganan pasca panen harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) Bebas dari pencemaran, 2) Pada tempat yang layak dan tidak di daerah yang saluran pembuangan airnya buruk, 3) Dekat dengan sentra produksi sehingga menghemat biaya transportasi dan menjaga kesegaran produk, 4) Sebaiknya tidak dekat dengan perumahan penduduk. 

b. Bangunan 
1) Bangunan harus dibuat berdasarkan perencanaan yang memenuhi persyaratan teknik dan kesehatan sesuai dengan jenis produk yang ditangani, sehingga mudah dibersihkan, mudah dilaksanakan tindak sanitasi dan mudah dipelihara. 2) Tata letak diatur sesuai dengan urutan proses penanganan, sehingga lebih efisien 3) Penerangan dalam ruang kerja harus cukup sesuai dengan keperluan dan persyaratan kesehatan serta lampu berpelindung 4) Tata letak yang aman dari pencurian.

c. Sanitasi
Bangunan harus dilengkapi dengan fasilitas sanitasi yang dibuat berdasarkan perencanaan yang memenuhi persyaratan teknik dan kesehatan. 1) Bangunan harus dilengkapi dengan sarana penyediaan air bersih. 2) Bangunan harus dilengkapi dengan sarana pembuangan yang memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3) Bangunan harus dilengkapi sarana toilet : letaknya tidak terbuka langsung ke ruang proses penanganan pasca panen 4) Dilengkapi dengan bak cuci tangan (wastafel).

d. Wadah dan Pembungkus
1) Dapat melindungi dan mempertahankan mutu isinya terhadap pengaruh dari luar. 2) Dibuat dari bahan yang tidak melepaskan bagian atau unsur yang dapat mengganggu kesehatan atau mempengaruhi mutu makanan. 3) Tahan/tidak berubah selama pengangkutan dan peredaran. 4) Sebelum digunakan wadah harus dibersihkan dan dikenakan tindakan sanitasi. 5) Wadah dan bahan pengemas disimpan pada ruangan yang kering dan ventilasi yang cukup dan dicek kebersihan dan investasi jasad pengganggu sebelum digunakan.

e. Tenaga Kerja 
1) Tenaga kerja harus berbadan sehat. 2) Memiliki keterampilan sesuai dengan bidang pekerjaannya. 3) Mernpunyai komitmen dengan tugasnya. 4) Sesuai dengan Undang-Undang Tenaga Kerja 

f. Alat dan Mesin 
Pada beberapa kegiatan penanganan pasca panen kopi secara kelompok, menengah dan besar, yang melakukan proses pengolahan kopi dengan cara kering, semi basah maupun basah dapat menggunakan alat dan mesin. Proses pengolahan kopi dengan bantuan alat dan mesin memerlukan biaya investasi yang relatif cukup besar. Selain itu juga membutuhkan tenaga yang terlatih dan biaya operasi untuk bahan bakar dan listrik. Alat dan mesin yang dipergunakan untuk penanganan pasca panen kopi harus memenuhi persyaratan minimum yang telah ditetapkan, dan telah teruji kinerjanya oleh Balai Pengujian Mutu Alat dan Mesin Pertanian. Selain itu, alat dan mesin harus memenuhi persyaratan teknis, kesehatan, ekonomis dan ergonomic. persyaratan peralatan dan mesin yang digunakan dalam penanganan pasca panen kopi harus meliputi : 1) Permukaan yang berhubungan dengan bahan yang diproses tidak boleh berkarat dan tidak mudah mengelupas. 2) Mudah dibersihkan dan dikontrol. 3) Tidak mencemari hasil seperti unsur atau fragmen logam yang lepas, minyak pelumas, bahan bakar, tidak bereaksi dengan produk, jasad renik dan lain-lain. 4) Mudah dikenakan tindakan sanitasi. 

Sumber: www.deptan.go.id

Menerima:
JASA OLAH DAN ANALISIS DATA PENELITIAN
Cepat, Murah, dan Terpercaya !

Kamis, Juli 15, 2010

PENGEMBANGAN LAHAN KERING

Pengembangan pertanian lahan kering menggunakan pendekatan agribisnis, berarti agar berhasil mengembangkan pertanian lahan kering termasuk di dalamnya berhasil meningkatkan pendapatan petani, maka tidak hanya memikirkan pengembangan subsistem usahatani atau produksi saja, tetapi juga memikirkan pengembangan subsistem-subsistem lainnya yang menunjang keberhasilan subsistem usahatani tersebut.


Oleh karena itu, pengembangan keempat subsistem agribisnis secara simultan dan terintegrasi secara vertikal dari hulu ke hilir dan secara horizontal antara berbagai sektor akan mampu menciptakan profit yang layak bagi petani di lahan kering. Secara umum, tahapan pengembangan pertanian lahan kering dengan pendekatan agribisnis adalah sebagai berikut:
  1. Lakukan evaluasi potensi wilayah, al.: kondisi fisik dan kesuburun lahan, kondisi agroekosistem, dll.;
  2. Identifikasi jenis tanaman dan ternak yang telah ada dan baru yang cocok dikembangkan di wilayah tersebut dan bagaimana sistem irigasinya, apakah irigasi sumur bor dengan sistem perpipaan atau irigasi tetes (drip irrigation) atau hanya mengandalkan tadah hujan;
  3. Adakah tersedia sarana produksi dan teknologi, seperti benih, pupuk, pakan, pestisida, alat dan mesin (alsintan), obat-obatan yang dibutuhkan jika mengusahakan tanaman dan ternak pada butir 2. Jika tersedia apakah terjangkau oleh petani setempat ?;
  4. Bagaimana dengan pascapanennya. Apakah teknologinya dikuasai atau belum. Jika belum perlu dicari tahu teknologi pasca panennya;
  5. Apakah mungkin kelak produksinya diolah menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi. Jika mungkin bagaimana dengan penguasaan teknologinya. Jika belum dikuasai perlu dicari tahu tentang teknologi pengolahannya;
  6. Kemana kelak produksinya dipasarkan, apakah pasar lokal, antar pulau, atau ekspor;
  7. Masih adakah peluang pasar dan jika ada siapa target pasarnya (masyarakat umum, wisatawan) atau kelas bawah, menengah atau kelas atas;
  8. Adakah strategi pemasaran untuk memenangkan persaingan terhadapBcompetitor produk sejenis;
  9. Tersediakah prasarana penunjang, seperti jalan, jembatan, pelabuhan, terminal, alat transportasi yang melancarkan pengaliran produk dari petani ke pasar atau konsumen;
  10. Adakah kelembagaan penunjang, seperti lembaga perkreditan, lembaga penyuluhan, kelompok tani, lembaga penelitian, peraturan/kebijakan pemerintah yang kondusif, koperasi, dll.;
  11. The last but not least, bersediakah petani diajak melakukan inovasi-inovasi untuk meningkatkan produktivitas sumberdaya lahan kering yang dimilikinya. Jika tidak atau belum tersedia, lakukan proses penyadaran secara terus-menerus pentingnya melakukan inovasi demi meningkatkan produktivitas dan akhirnya untuk meningkatkan kesejahteraannya. Di sini proses penyuluhan memegang peranan penting. Belajarlah dari sukses swasembada beras selama pemerintahan Orde Baru, yang mampu merubah sikap mental petani padi menjadi innovation minded.